KATA PENGANTARASSAMUA’LAIKUMBISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMPuji syukur kehadirat Allah swt karena berkat taufiq serta inayah-Nya lah makalah ini dapat dirampungkan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tak lupa pula kepada baginda nabi kita, sang revolusioner akbar, ialah Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari zaman yang gelap ilmu pengetahuan menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini.Makalah ini berjudul “MODEL-MODEL KONSELING DALAM KAITAN RELASI ANTAR ANGGOTA KELUARGA”. Yang mana, adanya karya tulis ilmiah ini sekaligus sebagai penambah khazanah keilmuan bagi penulis. pembimbing.Semoga makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kita.Terakhir, karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, karena penulis masih belajar sebagaimana mestinya. Oleh karenanya, penulis mengharap krtikan dan saran yang membangun baik bagi pembaca, khususnya bagi dosen pengampu. Amin.JAZAAKUMULLAH AHSANAL JAZAA.WASSALAMSukorejo, 10 oktober 2015PenulisDAFTAR ISICOVER……………………………………………………………………………....... iKATA PENGANTAR……………………………………………………………....... iiDAFTAR ISI………………………………………………………………………...... iiiBAB I PENDAHULUAN:A. Latar belakang ……………………………………………………………...... 1B. Rumusan masalah…………………………………………………………...... 1C. Tujuan ……………………………………………………………………....... 1BAB II PEMBAHASAN:A. Model-Model Konseling dalam Kaitan Relasi Antar Anggota Keluarga...………………………………………………………..................... 2B. Konseling Relasi Terpadu Model Cacho.......................................................... 9B. Penggunaan Mitra terapis dan tim pemantul.................................................... 13BAB III PENUTUP:B. Saran………………………………………………………………………...... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan dan konseling merupakan proses
yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai
kemampuan secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
dirinya maupun masyarakat yang ada, Bimbigan dan konseling ini pertama kali
keluar yaitu di New York, namun hanya untuk bidang karier saja, sedangkan
bidang-bidang yang lain itu merupakan kembangan dari bidang karier yang
munculnya dibelakangan.
Dalam makalah
ini, kami akan memaparkan penggunaan pendekatan terpadu khusus guna menerapkan
konseling raelasi dan sebagai model CACHO (Communication-Awareness-Choice-Outcome).
Yang mana, kita dapat
mengetahui tentang model- model konseling antar anggota keluarga. Selain itu,
gagasan bahwa keluarga tumbuh sebagai sebuah sistem merupakan fondasi dasar
mayoritas pendekatan keluarga. Jadi, perlu kiranya kita untukk mengetahui
relasi daripada bimbingan dan konseling dengan keluarga.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana hubungan model-model konseling dalam kaitan relasi antar
anggota keluarga ?
2. Bagaimana hubungan konseling relasi terpadu model CACHO ?
3. Bagaimana penggunaan mitra terapis dan tim pemantul ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hubungan model-model konseling dalam kaitan relasi
antar anggota keluarga
2. Untuk mengetahui hubungan konseling relasi terpadu model CACHO
3. Untuk mengetahui penggunaan mitra terapis dan tim pemntul
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Model-Model
Konseling dalam Kaitan Relasi Antar Anggota Keluarga
Model
konseling dalam kaitan relasi antaranggota keluarga (selanjutnya disebut dengan
istilah konseling relasi-peny). Minat terhadap konseling dalam kaitan relasi
antaranggota keluarga dsimulai sejak diterbitkannya karya Gregory Bateson di
Palo Alto, California. Dia meneliti proses-proses komunikasi dalam keluarga,
sistem kerja sama, dan efek sistem kekeluargaan bagi para anggota keluarga yang
didiagnosis menderita skizofrenia (Bateson dkk, 1956).
Pendekatan sistem yang diterapkan
pada terapi keluarga banyak mendasarkan pada teori konstruktivisme. Oleh karena
itu, sebelum memaparkan sejumlah model konseling relasi secara khusus, kami
akan menjelaskan terlebih dahulu teori sistem dan teori konstruktivisme.
1.
Teori Sistem
Teori sistem memandang sebuah
keluarga sebagai suatu sistem yang meliputi individu di dalam keluarga dan cara
para individu ini berfungsi bersama (Dattilio, 1998). Sistem dalam keluarga
terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut subsistem. Contoh
keluarga adalah subsistem dari komunitas tempat keluarga itu hidup.
Ada beberapa batasan disekitar
setiap sistem maupun subsistem. Sebagian besar pembatasan ini bersifat semi-permeable;
artinya ada bagian yang dapat tertembus sementara ada bagian lain yang
tidak dapat tertembus. Secara umum, batasan bermanfaat bagi usaha melindungi
kemandirian dan otonomi keluarga dan subsistem-subsitemnya.:
a.
Homoestasis
Homoestasis merupakan suatu proses
yang memungkinkan agar sistem mampu memelihara diri berada dalam suatu
keseimbangan dinamis. Namun, keseimbangan dalam pemeliharaan suatu sistem
keluaraga dalam kadang berdampak problematis kendati mempunyai peran
menstabilkan keluarga. Contoh kedua orang tua terlalu memusatkan perhatian
kearah proses relasi dengan anak, sehingga hal tersebut terasa aneh, menyedot
perhatian, dan menyebabkan anak salah bertingakah. Hasilnya sistem hemeotasis
memungkinkan kedua orang tua memp ertahankan relasi yang stabil, namun penuh
tekanan satu sama lain serta mengorbankan kesehatan emosional anak.
b.
Efek Perubahan pada Suatu Sistem
Perubahan dalam salah satu bagian
sistem keluarga dapat menyebabkan reaksi bagian-bagian lain dari sistem itu.
Karena keluarga secara alamiah akan cenderung akan mempertahankan hemeostasis
dibanding rasa kehilangan keseimbangan untuk sementara sebelum mendapatkan
hemeostasis yang baru. Hemeostasis dapat menjadi pengekang bagi perubahan.
2.
Teori Konstruktivis
Pendekatan terpai keluarga
konstruktivis, seperti terapi naratif dan terapi berorientasi solusi, percaya
bahwa memusatkan diri pada masalah-masalah sistemik itu tidak penting. Mereka
berpendapat lebih penting memperhitungkan persepsi masing-masing individu
anggota keluarga dan menemukan bagaimana keluarga secara keseluruhan memaknai
pengalaman keluarga mereka terhadap suatu masalah.
Konstruktivisme menekan bahwa
individu mempunyai pengalaman subjektif mereka sendiri terhadap kenyataan yang
memberi makna bagi cara berfungsi keluarga mereka. Konstruktivisme mengajak
kita untuk melihat diluar perilaku cara masing-masing anggota keluarga
menerima, menafsirkan, dan membangun pengalaman hidup mereka dalam keluarga
mereka itu.
Ø Model-Model
Terapi Keluarga yang Sudah Banyak Dikenal Luas
Pendekatan-pendekatan berikut akan
didiskusikan:
1.
Terapi Keluarga Multigenerasi
Ikhtisar teori
dan konsep Bowen adalah sebagai berikut:
·
Diferensiasi Diri
Pemikiran utama teori Bowen adalah
penekanan yang diberikan pada pentingnya pembedaan (differentiating) anggota
keluarga. Konsep intrapsikis diri menunjukkan pada pemisahan psikologis
intelektual individu dengan emosinya, agar individu dapat menanggapi dengan
cara penuh nalar tanpa harus reaktif emosional. Konsep interpersonal
diferensiasi diri mengacu pada kemampuan seorang individu untuk memisah secara
emisional dari yang lain dan menjadi independen sebagai seorang individu.
·
Proses-proses Penularan
Multigenerasi
Proses penularan multigenerasi
ialah kenyataan bahwa orang-orang yang terikat dalam keluarga asalnya cenderung
menikah dengan orang lain lain yang dapat membuatnya terikat, dan menjadikan
dua individu yang tidak terdiferensiasi, saling mencari dan menemukan satu sama
lainuntuk menjadi suatu pasangan.
·
Pemutusan Kelekatan Emosional
Bowen menyarankan agar orang dewasa
harus memutuskan kelekatan emosionalnya dengan keluarga asal. Dia tidak percaya
bahwa solusi yang memuaskan adalah usaha diferensiasi diri keluarga asal dengan
cara pemisahan geografis atau pembatasan psikologis seperti dengan tidak
berbicara kepada orang tua.
·
Triangulasi
Bowen mengakui bahwa kecemasan
mudah berkembang dalam relasi yang intim. Situasi itu dapat melibatkan orang
ketiga kedalam relasi untuk mengurangi kecemasan mereka dan mencapai stabilitas
ke dalam relasi untuk untuk mengurangi kecemasan mereka dan mencapai stabilitas
di dalam relasi. Hal ini disebut triangulasi. Dia menyatakan bahwa orang yang
lemah diferensiasinya akan sangat rentan untuk ditarik ke dalam triangulasi
dalam upaya mengurangi ketegangan.
·
Menggunakan Genogram dalam Keluarga
Penggunaan genogram dalam terapi
keluarga oleh Bowen dimaksudkan sebagai usaha memodifikasi pengaruh historis
dan faktor-faktor yang mewarnai timbulnya masalah yang berasal dari keluarga
asal. Genogram merupakan suatu cara mengumpulkan informasi bebas yang
dibutuhkan bagi keluarga dan dihubungkan dengan proses eksplorasi terapeutik.
Genogram membantu para anggota keluarga membagi dan mengungkapkan informasi
tentang keluarga.
2. Terapi Keluarga Strategis
Model
konseling relasi jenis ini memanfaatkan sibernetika untuk menjelaskan dinamika
keluarga. Yakni:
·
Penjelasan Sibernetik atas Dinamika
Keluarga
Konsep-konsep Sibernetik kausalitas
sirkuler dan siklus umpan balik memberikan suatu keterangan masalah
dalam keluarga saat para anggota keluarga mereaksi suatu masalah dengan
menerapkan solusi yang memliki kesamaan.
·
Penjelasan Struktural Dinamika
Keluarga
Kelurga mempunyai aturan-aturan
yang tidak diucapkan yang mengatur perilaku keluarga. Menurut pendapat para
ahli terapi keluarga strategik, permasalahan yang muncul diduga karena anggota
keluarga mencoba saling melindungi atau mengendalikan satu sama lain, dan
secara diam-diam menggunakan aturan yang tidak diucapkan itu. Aturan-aturan ini
berjalan untuk melestarikan homoestasis keluarga. Karena aturan-aturan keluarga
yang tidak diucapkan itu menghambat perubahan, maka para terapis strategi
berusaha mengubahnyaantara lain dengan cara reframing atau mengubah
sudut pandang suatu perilaku.
·
Konselor adalah Ahli
Konselor ditempatkan sebagai
konsultan ahli yang memimpin sesi pertemuan dan bertanggung jawab memulai
perubahan. Konselor membantu para anggota keluarga tentang apa yang harus
dilakukan untuk mengubah cara berperilaku masing-masing dalam berelasi dengan
anggota keluarga lain. Ptunjuk-petunjuk itu dapat diberikan secar berterus
terang atau bisa juga bersifat paradoks. Terapis keluarga stategis memberi
petunjuk-petunjuk langsung kepada keluarga.
·
Petunjuk secara Langsung
Petunjuk secara langsung mencakup
pemberian nasihat, memberi saran-saran, melatih, dan memberi tugas.
·
Intervensi Paradoks
Dimaksudkan untuk mengelakkan
perlawanan alamiah klien terhadap perubahan. Dalam menggunakan intervensi jenis
ini, para klien diminta untuk melebih-lebihkan suatu perilaku problematis.
·
Penggunaan Mitra-Terapis atau Tim
Terapeutik
Hal ini dimaksudkan untuk
memperkaya wawasan terapis terhadap permasalahan keluarga agar lebih terpadu
dalam menginterpretasikan interaksi-interaksi di dalamnya.
·
Penggunaan Pertanyaan-Pertanyaan
Sirkuler
Kelompok Milan menekankan pada
pentingnya penggunaan pertanyaan-pertanyaan sirkuler.
·
Penggunaan Konotasi Positif
Strategi penting lainya, yang
digunakan oleh kelompok Milan, ialah konotasi positif. Konotasi positif dicapai
dengan menggunakan teknik reframing yang mengonotasikan masalah dan
perilaku semua anggota, dan khususnya anggota yang simtomatik
·
Pengajuan Hipotesis
Kelompok Milan percaya tentang
pentingnya pengajuan hipotesis tentang interaksi-interaksi keluarga dan
khususnya pada fungsi-fungsi simtomatik yang terdapat dalam keluarga.
3.
Terapi Keluarga Eksperensial
Menurut model ini, keluarga yang sehat memberi
keleluasaan individual, namun juga tidak mengabaikan kebersamaan, para anggota
keluarga secara individual memiliki cukup rasa aman untuk jujur memelihara
perasaan-perasaan mereka, cukup bebas menjadi diri sendiri. Keluarga yang
mengalami berbagai masalah akan terkurung kedalam perlindungan diri dan banyak
usaha untuk menghindar.
Para terapi keluarga eksperensial memusatkan
perhatian pada subjektivitas individu. Para terapis keluarga eksperensial
membantu indvidu untuk mampu berkomunikasi melalui emosi-emosinya yang jujur,
mengungkapkannya, dan memunculkan ikatan-ikatan keluarga yang lebih sejati dan
menguatkan autentisitas.
·
Peran Terapis
Terapis dipandang sebagai
katalisator perubahan, dengan cara memanfaatkan dampak personal individu dalam
keluarga. Carl Whitaker, seorang terapis eksperiensial keluarga menyarankan
pentingnya berbagai perasaan dengan keluarga.
Dalam menggunakan teknik ini, konselor
eksperensial memusatkan perhatian pada pengalaman langsung kini dan di sini,
serta ungkapan perasaan. Tujuan penggunaan teknik ini adalah memberi pengalaman
kepada keluarga yang memungkinkan mereka bisa berkomunikasi menggunakan
emosi-emosinya sekaligus meningkatkan fungsi kesadaran mereka.
4.
Terapi Keluarga Struktural
Salvador
Minuchin adalah pemula terapi keluarga. Minuchin (1974) menaruh penekanan pada:
1.
Struktur keluarga
2.
Subsistem-subsistem
3.
Batasan-batasan
·
Struktur Keluarga
Dalam setiap keluarga, para anggota akan berinteraksi satu sama lain
dalam rangkaian atau pola-pola terorganisasi secara spesifik. Hal inilah yang
mendefinisikan struktur keluarga. Dalam keluarga tertentu, orang tua bisa saja
mempunyai peran yang kuat seperti seorang organisator sedang orang tua keluarga
lain mempunyai peran yang lemah. Sementara pada keluarga lain kedua orang tua
menangani secara kolaboratif dan berbagai tanggung jawab.
·
Subsistem-Subsistem
Menurut konsep
terapi keluarga struktural, suatu subsistem dapat terdiri hanya dari satu
anggota keluarga saja, atau kelompok anggota keluarga yang lebih besar. Pada
sebagian keluarga, ada ssubsistem orang tua dan subsistem saudara kandung.
Contoh seorang ibu dan putranya berada dalam satu subsistem, sekaligus ibu
tersebut berada dalam satu subsistem dengan suaminya, namun putranya berada
dalam subsistem lain bersama saudara kandungnya.
·
Batasan-Batasan
Batasan ini
melindungi keterpisahan dan otonomi tiap sistem atau subsistem. Ada beberapa
batasan yang bersifat kaku, sementara lainnya lebih longgar. Batasan yang
longgar menjamin keleluasaan kontak dengan beberapa subsistem lain, dapat
menghasilkan situasi saling dukung walaupun dengan mengabaikan independensi dan
otonomi. Batasan yang kaku dapt menghasilakn kemandirian, pengendalian yang
longgardapat menghasilkan ketergantungan (enmeshment).
5.
Kinerja
Keluarga yang Adaptif
Keluarga struktural menekankan perlunya
hierarki orang tua di mana orang tua bekerja bersama dalam mengelola keluarga,
sehingga dengan demikian diharapkan mereka mampu mengubah struktur keluarga dan
begitu juga anggotanya mampu menyesuaikan diri dengan berbagai macam kondisi
keluarga yang sedang berubah dan berkembang. Beberapa keluarga seringkali
menanggapiya dengan kaku, padahal hal ini justru menyebabkan keluarga
kehilangan fungsinya, sebagai akibatnya timbullah kekacauan dan
ketidakbahagiaan.
6.
Proses-Proses Terapeutik
Terapis keluarga struktural berusaha
mengadakan perubahan struktur keluarga dengan harapan melalui cara ini akan
menghasilkan pemecahan masalah. Dalam hal ini terapis keluarga struktural
menyusun beberapa hipotesis dengan memerhatikan struktur keluarga dan mengajak para
anggota keluarga berkomunikasi secara langsung dalam usaha untuk memodifikasi
pola-pola yang tidak berguna.
7.
Terapi Keluarga Konstruktif
Gergen (2000)
mengidentifikasikan empat karakter yng menopang praktik terapi konstruksif:
·
Fokus pada makna
Lebih dari sekedar
memusatkan perhatian pada apa yang benar-benar ada, para terapis konstruktivis
berusaha menemukan informasi informasi melalui bahasa wawancara, narasi, dan
konsultasi, serta cara keluarga memaknai pengalaman mereka melalui riwayat yang
telah mereka ciptakan mengenai keluarga.
·
Terapi sebagai konstruksi-bersama
Dipandang oleh
penganut konstruktivis bahwa makna tidak dikomunikasikan dari terapis kepada
klien, tetapi diciptakan secara kolaboratif. Yang diperlukan peran terapis
adalah menyusun wawancara dengan menggunakan pendekatan konsultatif dan
senantiasa memerhatikan umpan balik dari klien.
·
Fokus pada relasi
Pendekatan
konstruktivis percaya bahwa makna tidak dibentuk oleh pemikiran suatu individu,
tetapi berasal dari relasi antara banyak orang dan melibatkan suatu proses
negosiasi yang terus menerus serta koordinasi dengan orang lain.
·
Kepekaan nilai
Praktik terapi
konstruktif ialah memunculkan terjadinya suatu proses refleksi sehingga hal-hal
yang diasumsikan tidak membantu dapat ditangguhkan. Sebagai konsekuensinya ialah ada pergeseran penekanan dari penerapan
pengetahuan secara objektif profesional menuju pertimbangan nilai-nilai inheren
dalam praktik si terapis.
·
Pendekatan-pendekatan konstruktivis
Dalam lingkup
terapi keluarga konstruktif, ada sejumlah pendekatan yang berbeda, yang paling
lazim dipraktikkan ialah terapi keluarga berorientasi solusi dan terapi keluarga
naratif.
Terapi keluarga berorientasi solusi berasal
dari konseling singkat berfokus solusi yang dipelopori oleh steve de shazer
(1985). Penekanannya ada pada perubahan yang diinginkan klien. Terapi keluarga
naratif dikembangkan oleh Michael White dan David Epston (1990). Para terapis
naratif menggunakan proses eksternalisasi dan mengajak para anggota keluarga
menempatkan diri pada posisi mereka sesuai riwayat kehidupan mereka yang
dieksternalisasi.
B.
Konseling Relasi Terpadu Model
CACHO
Nichols
dan Schwartz (2007) menunjukkan bahwa para konselor menerapkan tiga cara yang
berbeda dalam menggunakan dalam konsep-konsep dan strategi yang diambil dari
aneka pendekatan terapi seperti disebut dibawah ini:
·
Eklektisisme
Mereka memilih melakukan hal itu dengan
pertimbangan bahwa dengan menggunakan pendekatan elektik lebih memungkinkan
bagi mereka melakukan intervensi untuk menghasilkan perubahan yang paling tepat
bagi keluarga atau pasangan tertentu. Namun didalamnya ada keterbatasan yang
cukup berarti. Pada saat menggunakan pendekatan ini, konselor biasanya tidak
suka menggunakan suatu teori pengubah tingkah laku yang dibatasi dengan ketat,
akibatnya pelaksanaan konseling secara klinis menjadi kurang konsisten.
Sehingga bisa mengalami ketidakpastian dan kekecewaan karena kurang arah yang
jelasdalam proses terapeutik.
·
Peminjaman selektif
Dalam peminjaman selektif, konselor
mendasarkan pendekatan terapeutik utama. Contoh peminjaman selektif ialah
seorang konselor menggunakan terapi naratif sebagai model utama dalam konseling
relasi yang sedang dikerjakan, yaitu berupa ajakan kepada anggota keluarga
untuk menuturkan kehidupan mereka.
Dari pemaparan diatas, jelas bahwa peminjaman
selektif dapat memunculkan masalah berkaitan dengan proses akibat dari
penerapan teoritis model utama
konseling yang dikaburkan dengan model yang berbeda secara khusus. Yakni:
Ø
Model-model terpadu dengan rancangan khusus
Ada beberapa tipe model terpadu, namun ada 2
yang paling lazim, ialah :
1.
Model-model yang memadukan secara
berturut-turut sejumlah pendekatan berbeda serta teori-teori mengubah tingkah
laku yang relevan.
2.
Model-model yang didasarkan pada
teori mengubah tingkah laku.
Ø
Model-model yang memadukan secara
berturut-turut sejumlah pendekatan berbeda serta teori-teori mengubah tingkah
laku yang relevan
Sebuah contoh
yang relevan dari model konseling terpadu ialah Model Konseling Terpadu
Terencana Secara Berturutan untuk Anak-anak (SPICC: Sequentially Planned
Integrative Counseling for children)-(Geldard dan Geldard, 2008a). Dalam
tiap fase digunakan pendekatan konseling baru bersama teori mengubah tingkah
laku yang memiliki kaitan. Pertama, digunakan teknik konseling berpusat
pada klien. Kedua, digunakan terapi gestalt untuk membantu mningkatkan
kesadaran anak dan memungkinkan anak mampu berkomunikasi menggunakan emosi yang
kuat. Ketiga, digunakan terapi naratif dengan tujuan membantu anak agar
mampu mengubah pandangannya mengenai diri sendiri. Keempat, digunakan
terapi behavioral kognitif untuk membantu sang anak menghadapi
keyakinan-keyakinan yang merugikan diri sendiri dan adanya butir-butir pilihan.Kelima,
digunakan terapi perilaku untuk membantu si anak melatih kembali dan
bereksperimen dengan perilaku baru.
Ø
Model-model yang didasarkan pada
teori mengubah tingkah laku
Model-model terpadu dilakukan dengan
menggabungkan berbagai strategi dan teknik dari sejumlah pendekatan model
tunggal yang cocok satu sama lain, kemudian dipadukan ke dalam suatu model
komprehensif. Suatu model terpadu seperti itu berbeda dengan peminjaman
selektif karena model terpadu didasarkan pada suatu teori mengubah tingkah laku
tunggal yang diambil dari suatu model tunggal yang disukai.
Ø
Model Konseling Relasi Terpadu
CACHO
Communication (komunikasi)
Kaidah dasar terapi Gestalt ialah bahwa
perubahan terjadi sebagai hasil meningkatnya kesadaran (yontef, 2005). Langkah
pertama, untuk meningkatkan kesadaran yang diperlukan ialah mengunakan
startegi-strategi yang akan membantu para klien berkomunikasi satu sama lain
sehingga mereka mulai dapat mengerti gambaran dan arah pembicaraan
masing-masing
A-Aawareness
(kesadaran)
Teori mengubah tingkah laku yang mendasari
terapi Gestalt yang digunakan dalam model CACHO bersandar pada penggunaan
berbagai startegi untuk meningkatkan kesadaran. Dengan maksud meningkatkan
kesadaran secara intensif, model terpadu CACHO menggunakan aneka strategi dan
teknik praktis yang sesuai dengan tuntunan penanganan.
CH-Choice
(pilihan)
Hal yang sering muncul ialah memilih untuk
berpikir dan berperilaku seperti sekarang, sangat jarang yang memilih berubah,
dalam arti berpikir dan berperilaku dengan cara yang berbeda. Ada
konsekuensinya masing-masing bagi setiap pilihan yang diambil.
O-Outcome
Saat keputusan untuk mengubah pemikiran dan
perilaku sudah dibuat,akan ada hasil dari sistem itu yang bisa diharap.
Konsekuensinya ialah setiap perubahan yang dilakukan tiap individu dalam sistem
keluarga. Dalam terminologi Gestalt, sistem yang sedang mengalami eksperimen
membuat perubahan dalam bidang perilaku, dapat dipantau melalui hasil atau
konsekuensi yang diharapkan oleh perubahan.
Meningkatkan
Perubahan Menggunakan Model CACHO
a.
Teori mengubah tingkah laku
paradoksikal
Pandangan
Gestalt (yontef,2005) mengatakan bahwa gagasan atas perubahan munuju arah
tertentu yang dibuat sang terapis pasti akan di lawan. Alih-alih melawan
desakan yang mengarahkan perubahan, berfokus pada peningkatan kesadaran atas
apa yang ada ‘di sini dan kini’, secara paradoksikal, justru malah bisa
mempercepat perubahan.
b.
Meneruskan suatu proses sirkuler
hingga konseling selesai
Proses ini
bersifat serkuler dan secara umum terus berulang hingga para klien mencapai
tjuan mereka melalui konseling. Dalam menggunakan model konseling relasi ini,
konselor dapat memfasilitasi alur proses siklus CACHO. Boleh jadi proses siklus
tersebut perlu berulang beberapa kali sampai tercapainya hasil-hasil yang
memuaskan untuk klien. Mereka beranggapan dapat memutuskan untuk melakukannya
sendiri.
C.
Penggunaan
Mitra terapis dan tim pemantul
Ø Penggunaan mitra terapis
Ada sejumlah
cara bagaimana mitra- terapis dapat memberikan informasi tambahan yang bisa
membantu keluarga, yakni meliputi:
a.
Intervensi melalui telepon
Selagi
melaksanakan proses konseling kepada suatu keluarga, konselor terus menerus
memperhatikan tiap individu dalam keluarga.
Secara
spesifik, seorang mita- terapis dapat mengintervensi dengan maksud berikut ini:
·
Memberi umpan balik proses
·
Memberi umpan balik pola-pola
interaksional
·
Memberi umpan balik pengamatan
perilaku
·
Megarahkan perhatian kepada
informasi yang telah dirumuskan
·
Menyarankan suatu hipotesis untuk
menjelaskan perilaku- perilaku tertentu
b.
Penyajian gambaran mitra-terapis
Penekannya adalah dalam bentuk
umpan balik gambaran atau kiasan
c.
Diskusi terbuka mitra-terapis
Dalam sub ini, yang dapat berdampak
adalah seorang mitra-terapis masuk keruangan konseling dan melakukan diskusin
terbuka antara konselor dan mitra-terapis dihadapan keluarga.( Carl Whitaker:
1976).
Diskusi konselor dan mitra terapis
dihadapan keluarga membantu membuat proses konseling transparan dengan :
Ø Penggunaan tim pemantul
Penggunaan tim
pemantul merupakan cara yang sangat membantu untuk meningkatkan kesadaran
keluarga. Selain itu, tim pemantul juga sangat berguna sebagai pelatihan dan
pengawasan para konselor relasi.
Ø Proses kerja tim pemantul
Melalui
penggunaan tim pemantul, diharapkan bisa mengubah pandangan keluarga yang
menganngap konselor atau tim pemantul adalah para ahli yang bersifat hirarkis
yang pasti menemukan solusi tunggal bagi mereka.
v
Diskusi-diskusi tim
pemantul dapat memperkuat peningkatan kesadaran secara
intensif dengan:
Ø
Karakteristik diskusi tim pemantul
·
Memastikan bahwa diskusi dimulai
dengan cara yang dapat diterima keluarga
·
Mengakui kelebihan keluarga
·
Memaknai seacara positif perilaku
dan sikap keluarga
Ø
Teori yang menopang
penggunaan tim pemantul
Ø
Pelatihan dan
pengawasan konselor relasi
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ø Keluarga merupakan sistem yang mewadahi subsistem:
a.
Homeostatis
b.
Efek perubahan pada suatu sistem
Ø Model- model terapi keluarga yang sudah dikenal luas:
a.
Terapi
keluarga multi generasi
b.
Terapi keluarga
strategis
c.
Terapi keluarga
ekspertensia
Ø Relasi terpadu cacho:
a.
Communication
b.
Awerreness/ kesadaran
c.
Choice/ pilihan
d.
Outcome/ hasil
B. SARAN
Dengan adanya
makalah ini diharapkan kita sebagai calon konselor mampu dan lebih memahami
tentang model-model konselingdalam kaitan relasi antar anggota keluarga dan
menerapkannya dalam kehidupan studi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar