Minggu, 06 Desember 2015



KATA PENGANTAR

ASSAMUA’LAIKUM
  BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
            Puji syukur kehadirat Allah swt karena berkat taufiq serta inayah-Nya lah makalah ini dapat dirampungkan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tak lupa pula kepada baginda nabi kita, sang revolusioner akbar, ialah Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari zaman yang gelap ilmu pengetahuan menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini.
            Makalah ini berjudul “MODEL-MODEL KONSELING DALAM KAITAN RELASI ANTAR ANGGOTA KELUARGA”. Yang mana, adanya karya tulis ilmiah ini  sekaligus sebagai penambah khazanah keilmuan bagi penulis. pembimbing.
            Semoga makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kita.
            Terakhir, karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, karena penulis masih belajar sebagaimana mestinya. Oleh karenanya, penulis mengharap krtikan dan saran yang membangun baik bagi pembaca, khususnya bagi dosen pengampu. Amin.
            JAZAAKUMULLAH AHSANAL JAZAA.
WASSALAM
                                        

                                                                                         Sukorejo, 10 oktober  2015

                                                                                          Penulis
                                                                                                         





DAFTAR ISI

COVER…………………………………………………………………………….......       i
KATA  PENGANTAR…………………………………………………………….......       ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………......        iii
BAB I PENDAHULUAN:
A.    Latar belakang ……………………………………………………………......         1
B.     Rumusan masalah…………………………………………………………......         1
C.     Tujuan …………………………………………………………………….......         1
BAB II PEMBAHASAN:
A.    Model-Model Konseling dalam Kaitan Relasi Antar Anggota Keluarga...……………………………………………………….....................          2
B.     Konseling Relasi Terpadu Model Cacho..........................................................          9
B.     Penggunaan Mitra terapis dan tim pemantul....................................................          13
BAB III PENUTUP:
A.    Kesimpulan…………………………………………………………….......          15
B.     Saran………………………………………………………………………......         15




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Bimbingan dan konseling merupakan proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuan secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi dirinya maupun masyarakat yang ada, Bimbigan dan konseling ini pertama kali keluar yaitu di New York, namun hanya untuk bidang karier saja, sedangkan bidang-bidang yang lain itu merupakan kembangan dari bidang karier yang munculnya dibelakangan.
            Dalam makalah ini, kami akan memaparkan penggunaan pendekatan terpadu khusus guna menerapkan konseling raelasi dan sebagai model CACHO (Communication-Awareness-Choice-Outcome).
            Yang mana, kita dapat mengetahui tentang model- model konseling antar anggota keluarga. Selain itu, gagasan bahwa keluarga tumbuh sebagai sebuah sistem merupakan fondasi dasar mayoritas pendekatan keluarga. Jadi, perlu kiranya kita untukk mengetahui relasi daripada bimbingan dan konseling dengan keluarga.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana hubungan model-model konseling dalam kaitan relasi antar anggota keluarga ?
2.      Bagaimana hubungan konseling relasi terpadu model CACHO ?
3.      Bagaimana penggunaan mitra terapis dan tim pemantul ?


C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui hubungan model-model konseling dalam kaitan relasi antar anggota keluarga
2.      Untuk mengetahui hubungan konseling relasi terpadu model CACHO
3.      Untuk mengetahui penggunaan mitra terapis dan tim pemntul

 BAB II
PEMBAHASAN

A.      Model-Model Konseling dalam Kaitan Relasi Antar Anggota Keluarga

Model konseling dalam kaitan relasi antaranggota keluarga (selanjutnya disebut dengan istilah konseling relasi-peny). Minat terhadap konseling dalam kaitan relasi antaranggota keluarga dsimulai sejak diterbitkannya karya Gregory Bateson di Palo Alto, California. Dia meneliti proses-proses komunikasi dalam keluarga, sistem kerja sama, dan efek sistem kekeluargaan bagi para anggota keluarga yang didiagnosis menderita skizofrenia (Bateson dkk, 1956).
Pendekatan sistem yang diterapkan pada terapi keluarga banyak mendasarkan pada teori konstruktivisme. Oleh karena itu, sebelum memaparkan sejumlah model konseling relasi secara khusus, kami akan menjelaskan terlebih dahulu teori sistem dan teori konstruktivisme.
1.         Teori Sistem
Teori sistem memandang sebuah keluarga sebagai suatu sistem yang meliputi individu di dalam keluarga dan cara para individu ini berfungsi bersama (Dattilio, 1998). Sistem dalam keluarga terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut subsistem. Contoh keluarga adalah subsistem dari komunitas tempat keluarga itu hidup.
Ada beberapa batasan disekitar setiap sistem maupun subsistem. Sebagian besar pembatasan ini bersifat semi-permeable; artinya ada bagian yang dapat tertembus sementara ada bagian lain yang tidak dapat tertembus. Secara umum, batasan bermanfaat bagi usaha melindungi kemandirian dan otonomi keluarga dan subsistem-subsitemnya.:
a.         Homoestasis
Homoestasis merupakan suatu proses yang memungkinkan agar sistem mampu memelihara diri berada dalam suatu keseimbangan dinamis. Namun, keseimbangan dalam pemeliharaan suatu sistem keluaraga dalam kadang berdampak problematis kendati mempunyai peran menstabilkan keluarga. Contoh kedua orang tua terlalu memusatkan perhatian kearah proses relasi dengan anak, sehingga hal tersebut terasa aneh, menyedot perhatian, dan menyebabkan anak salah bertingakah. Hasilnya sistem hemeotasis memungkinkan kedua orang tua memp ertahankan relasi yang stabil, namun penuh tekanan satu sama lain serta mengorbankan kesehatan emosional anak.
b.        Efek Perubahan pada Suatu Sistem
Perubahan dalam salah satu bagian sistem keluarga dapat menyebabkan reaksi bagian-bagian lain dari sistem itu. Karena keluarga secara alamiah akan cenderung akan mempertahankan hemeostasis dibanding rasa kehilangan keseimbangan untuk sementara sebelum mendapatkan hemeostasis yang baru. Hemeostasis dapat menjadi pengekang bagi perubahan.
2.         Teori Konstruktivis
Pendekatan terpai keluarga konstruktivis, seperti terapi naratif dan terapi berorientasi solusi, percaya bahwa memusatkan diri pada masalah-masalah sistemik itu tidak penting. Mereka berpendapat lebih penting memperhitungkan persepsi masing-masing individu anggota keluarga dan menemukan bagaimana keluarga secara keseluruhan memaknai pengalaman keluarga mereka terhadap suatu masalah.
Konstruktivisme menekan bahwa individu mempunyai pengalaman subjektif mereka sendiri terhadap kenyataan yang memberi makna bagi cara berfungsi keluarga mereka. Konstruktivisme mengajak kita untuk melihat diluar perilaku cara masing-masing anggota keluarga menerima, menafsirkan, dan membangun pengalaman hidup mereka dalam keluarga mereka itu.

Ø  Model-Model Terapi Keluarga yang Sudah Banyak Dikenal Luas
Pendekatan-pendekatan berikut akan didiskusikan:
1.      Terapi Keluarga Multigenerasi
Ikhtisar teori dan konsep Bowen adalah sebagai berikut:
·         Diferensiasi Diri
Pemikiran utama teori Bowen adalah penekanan yang diberikan pada pentingnya pembedaan (differentiating) anggota keluarga. Konsep intrapsikis diri menunjukkan pada pemisahan psikologis intelektual individu dengan emosinya, agar individu dapat menanggapi dengan cara penuh nalar tanpa harus reaktif emosional. Konsep interpersonal diferensiasi diri mengacu pada kemampuan seorang individu untuk memisah secara emisional dari yang lain dan menjadi independen sebagai seorang individu.
·         Proses-proses Penularan Multigenerasi
Proses penularan multigenerasi ialah kenyataan bahwa orang-orang yang terikat dalam keluarga asalnya cenderung menikah dengan orang lain lain yang dapat membuatnya terikat, dan menjadikan dua individu yang tidak terdiferensiasi, saling mencari dan menemukan satu sama lainuntuk menjadi suatu pasangan.
·         Pemutusan Kelekatan Emosional
Bowen menyarankan agar orang dewasa harus memutuskan kelekatan emosionalnya dengan keluarga asal. Dia tidak percaya bahwa solusi yang memuaskan adalah usaha diferensiasi diri keluarga asal dengan cara pemisahan geografis atau pembatasan psikologis seperti dengan tidak berbicara kepada orang tua.
·         Triangulasi
Bowen mengakui bahwa kecemasan mudah berkembang dalam relasi yang intim. Situasi itu dapat melibatkan orang ketiga kedalam relasi untuk mengurangi kecemasan mereka dan mencapai stabilitas ke dalam relasi untuk untuk mengurangi kecemasan mereka dan mencapai stabilitas di dalam relasi. Hal ini disebut triangulasi. Dia menyatakan bahwa orang yang lemah diferensiasinya akan sangat rentan untuk ditarik ke dalam triangulasi dalam upaya mengurangi ketegangan.
·         Menggunakan Genogram dalam Keluarga
Penggunaan genogram dalam terapi keluarga oleh Bowen dimaksudkan sebagai usaha memodifikasi pengaruh historis dan faktor-faktor yang mewarnai timbulnya masalah yang berasal dari keluarga asal. Genogram merupakan suatu cara mengumpulkan informasi bebas yang dibutuhkan bagi keluarga dan dihubungkan dengan proses eksplorasi terapeutik. Genogram membantu para anggota keluarga membagi dan mengungkapkan informasi tentang keluarga.
2. Terapi Keluarga Strategis
Model konseling relasi jenis ini memanfaatkan sibernetika untuk menjelaskan dinamika keluarga. Yakni:
·         Penjelasan Sibernetik atas Dinamika Keluarga
Konsep-konsep Sibernetik kausalitas sirkuler dan siklus umpan balik memberikan suatu keterangan masalah dalam keluarga saat para anggota keluarga mereaksi suatu masalah dengan menerapkan solusi yang memliki kesamaan.
·         Penjelasan Struktural Dinamika Keluarga
Kelurga mempunyai aturan-aturan yang tidak diucapkan yang mengatur perilaku keluarga. Menurut pendapat para ahli terapi keluarga strategik, permasalahan yang muncul diduga karena anggota keluarga mencoba saling melindungi atau mengendalikan satu sama lain, dan secara diam-diam menggunakan aturan yang tidak diucapkan itu. Aturan-aturan ini berjalan untuk melestarikan homoestasis keluarga. Karena aturan-aturan keluarga yang tidak diucapkan itu menghambat perubahan, maka para terapis strategi berusaha mengubahnyaantara lain dengan cara reframing atau mengubah sudut pandang suatu perilaku.
·         Konselor adalah Ahli
Konselor ditempatkan sebagai konsultan ahli yang memimpin sesi pertemuan dan bertanggung jawab memulai perubahan. Konselor membantu para anggota keluarga tentang apa yang harus dilakukan untuk mengubah cara berperilaku masing-masing dalam berelasi dengan anggota keluarga lain. Ptunjuk-petunjuk itu dapat diberikan secar berterus terang atau bisa juga bersifat paradoks. Terapis keluarga stategis memberi petunjuk-petunjuk langsung kepada keluarga.
·         Petunjuk secara Langsung
Petunjuk secara langsung mencakup pemberian nasihat, memberi saran-saran, melatih, dan memberi tugas.
·         Intervensi Paradoks
Dimaksudkan untuk mengelakkan perlawanan alamiah klien terhadap perubahan. Dalam menggunakan intervensi jenis ini, para klien diminta untuk melebih-lebihkan suatu perilaku problematis.
·         Penggunaan Mitra-Terapis atau Tim Terapeutik
Hal ini dimaksudkan untuk memperkaya wawasan terapis terhadap permasalahan keluarga agar lebih terpadu dalam menginterpretasikan interaksi-interaksi di dalamnya.
·         Penggunaan Pertanyaan-Pertanyaan Sirkuler
Kelompok Milan menekankan pada pentingnya penggunaan pertanyaan-pertanyaan sirkuler.
·         Penggunaan Konotasi Positif
Strategi penting lainya, yang digunakan oleh kelompok Milan, ialah konotasi positif. Konotasi positif dicapai dengan menggunakan teknik reframing yang mengonotasikan masalah dan perilaku semua anggota, dan khususnya anggota yang simtomatik
·         Pengajuan Hipotesis
Kelompok Milan percaya tentang pentingnya pengajuan hipotesis tentang interaksi-interaksi keluarga dan khususnya pada fungsi-fungsi simtomatik yang terdapat dalam keluarga.

3.      Terapi Keluarga Eksperensial
Menurut model ini, keluarga yang sehat memberi keleluasaan individual, namun juga tidak mengabaikan kebersamaan, para anggota keluarga secara individual memiliki cukup rasa aman untuk jujur memelihara perasaan-perasaan mereka, cukup bebas menjadi diri sendiri. Keluarga yang mengalami berbagai masalah akan terkurung kedalam perlindungan diri dan banyak usaha untuk menghindar.
Para terapi keluarga eksperensial memusatkan perhatian pada subjektivitas individu. Para terapis keluarga eksperensial membantu indvidu untuk mampu berkomunikasi melalui emosi-emosinya yang jujur, mengungkapkannya, dan memunculkan ikatan-ikatan keluarga yang lebih sejati dan menguatkan autentisitas.
·         Peran Terapis
Terapis dipandang sebagai katalisator perubahan, dengan cara memanfaatkan dampak personal individu dalam keluarga. Carl Whitaker, seorang terapis eksperiensial keluarga menyarankan pentingnya berbagai perasaan dengan keluarga.
Dalam menggunakan teknik ini, konselor eksperensial memusatkan perhatian pada pengalaman langsung kini dan di sini, serta ungkapan perasaan. Tujuan penggunaan teknik ini adalah memberi pengalaman kepada keluarga yang memungkinkan mereka bisa berkomunikasi menggunakan emosi-emosinya sekaligus meningkatkan fungsi kesadaran mereka.


4.      Terapi Keluarga Struktural
Salvador Minuchin adalah pemula terapi keluarga. Minuchin (1974) menaruh penekanan pada:
1.      Struktur keluarga
2.      Subsistem-subsistem
3.      Batasan-batasan
·         Struktur Keluarga
Dalam setiap keluarga, para anggota akan berinteraksi satu sama lain dalam rangkaian atau pola-pola terorganisasi secara spesifik. Hal inilah yang mendefinisikan struktur keluarga. Dalam keluarga tertentu, orang tua bisa saja mempunyai peran yang kuat seperti seorang organisator sedang orang tua keluarga lain mempunyai peran yang lemah. Sementara pada keluarga lain kedua orang tua menangani secara kolaboratif dan berbagai tanggung jawab.
·         Subsistem-Subsistem
Menurut konsep terapi keluarga struktural, suatu subsistem dapat terdiri hanya dari satu anggota keluarga saja, atau kelompok anggota keluarga yang lebih besar. Pada sebagian keluarga, ada ssubsistem orang tua dan subsistem saudara kandung. Contoh seorang ibu dan putranya berada dalam satu subsistem, sekaligus ibu tersebut berada dalam satu subsistem dengan suaminya, namun putranya berada dalam subsistem lain bersama saudara kandungnya.
·         Batasan-Batasan
Batasan ini melindungi keterpisahan dan otonomi tiap sistem atau subsistem. Ada beberapa batasan yang bersifat kaku, sementara lainnya lebih longgar. Batasan yang longgar menjamin keleluasaan kontak dengan beberapa subsistem lain, dapat menghasilkan situasi saling dukung walaupun dengan mengabaikan independensi dan otonomi. Batasan yang kaku dapt menghasilakn kemandirian, pengendalian yang longgardapat menghasilkan ketergantungan (enmeshment).



5.      Kinerja Keluarga yang Adaptif
Keluarga struktural menekankan perlunya hierarki orang tua di mana orang tua bekerja bersama dalam mengelola keluarga, sehingga dengan demikian diharapkan mereka mampu mengubah struktur keluarga dan begitu juga anggotanya mampu menyesuaikan diri dengan berbagai macam kondisi keluarga yang sedang berubah dan berkembang. Beberapa keluarga seringkali menanggapiya dengan kaku, padahal hal ini justru menyebabkan keluarga kehilangan fungsinya, sebagai akibatnya timbullah kekacauan dan ketidakbahagiaan.
6.      Proses-Proses Terapeutik
Terapis keluarga struktural berusaha mengadakan perubahan struktur keluarga dengan harapan melalui cara ini akan menghasilkan pemecahan masalah. Dalam hal ini terapis keluarga struktural menyusun beberapa hipotesis dengan memerhatikan struktur keluarga dan mengajak para anggota keluarga berkomunikasi secara langsung dalam usaha untuk memodifikasi pola-pola yang tidak berguna.
7.      Terapi Keluarga Konstruktif
Gergen (2000) mengidentifikasikan empat karakter yng menopang praktik terapi konstruksif:
·         Fokus pada makna
Lebih dari sekedar memusatkan perhatian pada apa yang benar-benar ada, para terapis konstruktivis berusaha menemukan informasi informasi melalui bahasa wawancara, narasi, dan konsultasi, serta cara keluarga memaknai pengalaman mereka melalui riwayat yang telah mereka ciptakan mengenai keluarga.
·         Terapi sebagai konstruksi-bersama
Dipandang oleh penganut konstruktivis bahwa makna tidak dikomunikasikan dari terapis kepada klien, tetapi diciptakan secara kolaboratif. Yang diperlukan peran terapis adalah menyusun wawancara dengan menggunakan pendekatan konsultatif dan senantiasa memerhatikan umpan balik dari klien.


·         Fokus pada relasi
Pendekatan konstruktivis percaya bahwa makna tidak dibentuk oleh pemikiran suatu individu, tetapi berasal dari relasi antara banyak orang dan melibatkan suatu proses negosiasi yang terus menerus serta koordinasi dengan orang lain.
·         Kepekaan nilai
Praktik terapi konstruktif ialah memunculkan terjadinya suatu proses refleksi sehingga hal-hal yang diasumsikan tidak membantu dapat ditangguhkan. Sebagai konsekuensinya  ialah ada pergeseran penekanan dari penerapan pengetahuan secara objektif profesional menuju pertimbangan nilai-nilai inheren dalam praktik si terapis.
·         Pendekatan-pendekatan konstruktivis
Dalam lingkup terapi keluarga konstruktif, ada sejumlah pendekatan yang berbeda, yang paling lazim dipraktikkan ialah terapi keluarga berorientasi solusi dan terapi keluarga naratif.
   Terapi keluarga berorientasi solusi berasal dari konseling singkat berfokus solusi yang dipelopori oleh steve de shazer (1985). Penekanannya ada pada perubahan yang diinginkan klien. Terapi keluarga naratif dikembangkan oleh Michael White dan David Epston (1990). Para terapis naratif menggunakan proses eksternalisasi dan mengajak para anggota keluarga menempatkan diri pada posisi mereka sesuai riwayat kehidupan mereka yang dieksternalisasi.

B.     Konseling Relasi Terpadu Model CACHO
    Nichols dan Schwartz (2007) menunjukkan bahwa para konselor menerapkan tiga cara yang berbeda dalam menggunakan dalam konsep-konsep dan strategi yang diambil dari aneka pendekatan terapi seperti disebut dibawah ini:
·         Eklektisisme 
Mereka memilih melakukan hal itu dengan pertimbangan bahwa dengan menggunakan pendekatan elektik lebih memungkinkan bagi mereka melakukan intervensi untuk menghasilkan perubahan yang paling tepat bagi keluarga atau pasangan tertentu. Namun didalamnya ada keterbatasan yang cukup berarti. Pada saat menggunakan pendekatan ini, konselor biasanya tidak suka menggunakan suatu teori pengubah tingkah laku yang dibatasi dengan ketat, akibatnya pelaksanaan konseling secara klinis menjadi kurang konsisten. Sehingga bisa mengalami ketidakpastian dan kekecewaan karena kurang arah yang jelasdalam proses terapeutik.
·         Peminjaman selektif
Dalam peminjaman selektif, konselor mendasarkan pendekatan terapeutik utama. Contoh peminjaman selektif ialah seorang konselor menggunakan terapi naratif sebagai model utama dalam konseling relasi yang sedang dikerjakan, yaitu berupa ajakan kepada anggota keluarga untuk menuturkan kehidupan mereka.
Dari pemaparan diatas, jelas bahwa peminjaman selektif dapat memunculkan masalah berkaitan dengan proses akibat dari penerapan teoritis model utama konseling yang dikaburkan dengan model yang berbeda secara khusus. Yakni:
Ø  Model-model  terpadu dengan rancangan khusus
Ada beberapa tipe model terpadu, namun ada 2 yang paling lazim, ialah :
1.      Model-model yang memadukan secara berturut-turut sejumlah pendekatan berbeda serta teori-teori mengubah tingkah laku yang relevan.
2.      Model-model yang didasarkan pada teori mengubah tingkah laku.

Ø  Model-model yang memadukan secara berturut-turut sejumlah pendekatan berbeda serta teori-teori mengubah tingkah laku yang relevan
Sebuah contoh yang relevan dari model konseling terpadu ialah Model Konseling Terpadu Terencana Secara Berturutan untuk Anak-anak (SPICC: Sequentially Planned Integrative Counseling for children)-(Geldard dan Geldard, 2008a). Dalam tiap fase digunakan pendekatan konseling baru bersama teori mengubah tingkah laku yang memiliki kaitan. Pertama, digunakan teknik konseling berpusat pada klien. Kedua, digunakan terapi gestalt untuk membantu mningkatkan kesadaran anak dan memungkinkan anak mampu berkomunikasi menggunakan emosi yang kuat. Ketiga, digunakan terapi naratif dengan tujuan membantu anak agar mampu mengubah pandangannya mengenai diri sendiri. Keempat, digunakan terapi behavioral kognitif untuk membantu sang anak menghadapi keyakinan-keyakinan yang merugikan diri sendiri dan adanya butir-butir pilihan.Kelima, digunakan terapi perilaku untuk membantu si anak melatih kembali dan bereksperimen dengan perilaku baru.

Ø  Model-model yang didasarkan pada teori mengubah tingkah laku
Model-model terpadu dilakukan dengan menggabungkan berbagai strategi dan teknik dari sejumlah pendekatan model tunggal yang cocok satu sama lain, kemudian dipadukan ke dalam suatu model komprehensif. Suatu model terpadu seperti itu berbeda dengan peminjaman selektif karena model terpadu didasarkan pada suatu teori mengubah tingkah laku tunggal yang diambil dari suatu model tunggal yang disukai.

Ø  Model Konseling Relasi Terpadu CACHO
Communication (komunikasi)
Kaidah dasar terapi Gestalt ialah bahwa perubahan terjadi sebagai hasil meningkatnya kesadaran (yontef, 2005). Langkah pertama, untuk meningkatkan kesadaran yang diperlukan ialah mengunakan startegi-strategi yang akan membantu para klien berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka mulai dapat mengerti gambaran dan arah pembicaraan masing-masing
A-Aawareness (kesadaran)
Teori mengubah tingkah laku yang mendasari terapi Gestalt yang digunakan dalam model CACHO bersandar pada penggunaan berbagai startegi untuk meningkatkan kesadaran. Dengan maksud meningkatkan kesadaran secara intensif, model terpadu CACHO menggunakan aneka strategi dan teknik praktis yang sesuai dengan tuntunan penanganan.
CH-Choice (pilihan)
Hal yang sering muncul ialah memilih untuk berpikir dan berperilaku seperti sekarang, sangat jarang yang memilih berubah, dalam arti berpikir dan berperilaku dengan cara yang berbeda. Ada konsekuensinya masing-masing bagi setiap pilihan yang diambil.
O-Outcome
Saat keputusan untuk mengubah pemikiran dan perilaku sudah dibuat,akan ada hasil dari sistem itu yang bisa diharap. Konsekuensinya ialah setiap perubahan yang dilakukan tiap individu dalam sistem keluarga. Dalam terminologi Gestalt, sistem yang sedang mengalami eksperimen membuat perubahan dalam bidang perilaku, dapat dipantau melalui hasil atau konsekuensi yang diharapkan oleh perubahan.

Meningkatkan Perubahan Menggunakan Model CACHO
a.      Teori mengubah tingkah laku paradoksikal
Pandangan Gestalt (yontef,2005) mengatakan bahwa gagasan atas perubahan munuju arah tertentu yang dibuat sang terapis pasti akan di lawan. Alih-alih melawan desakan yang mengarahkan perubahan, berfokus pada peningkatan kesadaran atas apa yang ada ‘di sini dan kini’, secara paradoksikal, justru malah bisa mempercepat perubahan.
b.      Meneruskan suatu proses sirkuler hingga konseling selesai
Proses ini bersifat serkuler dan secara umum terus berulang hingga para klien mencapai tjuan mereka melalui konseling. Dalam menggunakan model konseling relasi ini, konselor dapat memfasilitasi alur proses siklus CACHO. Boleh jadi proses siklus tersebut perlu berulang beberapa kali sampai tercapainya hasil-hasil yang memuaskan untuk klien. Mereka beranggapan dapat memutuskan untuk melakukannya sendiri.





C.    Penggunaan Mitra terapis dan tim pemantul
Ø  Penggunaan mitra terapis
Ada sejumlah cara bagaimana mitra- terapis dapat memberikan informasi tambahan yang bisa membantu keluarga, yakni meliputi:
a.       Intervensi melalui telepon
Selagi melaksanakan proses konseling kepada suatu keluarga, konselor terus menerus memperhatikan tiap individu dalam keluarga.
Secara spesifik, seorang mita- terapis dapat mengintervensi dengan maksud berikut ini:
·         Memberi umpan balik proses
·         Memberi umpan balik pola-pola interaksional
·         Memberi umpan balik pengamatan perilaku
·         Megarahkan perhatian kepada informasi yang telah dirumuskan
·         Menyarankan suatu hipotesis untuk menjelaskan perilaku- perilaku tertentu
b.      Penyajian gambaran mitra-terapis
Penekannya adalah dalam bentuk umpan balik gambaran atau kiasan
c.       Diskusi terbuka mitra-terapis
Dalam sub ini, yang dapat berdampak adalah seorang mitra-terapis masuk keruangan konseling dan melakukan diskusin terbuka antara konselor dan mitra-terapis dihadapan keluarga.( Carl Whitaker: 1976).
      Diskusi konselor dan mitra terapis dihadapan keluarga membantu membuat proses konseling transparan dengan :

Ø  Penggunaan tim pemantul
Penggunaan tim pemantul merupakan cara yang sangat membantu untuk meningkatkan kesadaran keluarga. Selain itu, tim pemantul juga sangat berguna sebagai pelatihan dan pengawasan para konselor relasi.
Ø  Proses kerja tim pemantul
Melalui penggunaan tim pemantul, diharapkan bisa mengubah pandangan keluarga yang menganngap konselor atau tim pemantul adalah para ahli yang bersifat hirarkis yang pasti menemukan solusi tunggal bagi mereka.

v     Diskusi-diskusi tim pemantul dapat memperkuat peningkatan kesadaran secara intensif dengan:
Ø    Karakteristik diskusi tim pemantul
·         Memastikan bahwa diskusi dimulai dengan cara yang dapat diterima keluarga
·         Mengakui kelebihan keluarga
·         Memaknai seacara positif perilaku dan sikap keluarga

Ø    Teori yang menopang penggunaan tim pemantul
Ø    Pelatihan dan pengawasan konselor relasi
















BAB III
          PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Ø  Keluarga merupakan sistem yang mewadahi subsistem:
a.       Homeostatis
b.      Efek perubahan pada suatu sistem
Ø  Model- model terapi keluarga yang sudah dikenal luas:
a.       Terapi keluarga multi generasi
b.      Terapi keluarga strategis
c.       Terapi keluarga ekspertensia
Ø  Relasi terpadu cacho:
a.       Communication
b.      Awerreness/ kesadaran
c.       Choice/ pilihan
d.      Outcome/ hasil

B.     SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan kita sebagai calon konselor mampu dan lebih memahami tentang model-model konselingdalam kaitan relasi antar anggota keluarga dan menerapkannya dalam kehidupan studi kita.



























                                                                                                                       


                                                                          

Tidak ada komentar: