Rasa
terbaik
Situbondo, 22 Agustus
2014
Aku
tersenyum penuh haru, mereka semua berkumpul dengan wajah penuh haru, bahagia,
dan bangga. Ya, ini semua adalah balasan yang selama ini penuh dengan detak
jantung yang siap memompa adrenalin, mengeringkan air mata yang tak pernah
berhenti. Aku menghampiri mereka dan memeluk mereka dengan erat. Aku bahagi
sekali, kulihat mereka menitikkan air mata, aku semakin tak bisa menghentikan
air mata yang semakin keluar tak tertahan ini. Mereka, adalah keluargaku, ayah,
ibu, nenek, dan semua keluarga besarku.
Hari ini aku akan berangkat ke Malaysia, melanjutkan
study yang begitu aku impikan. Penuh pengorbanan, penuh lika liku, penuh sesak,
penuh air mata, dan egoisme yang menekan amarah dan luapan emosi keluarga. Aku melihat ke pintu, disana ada seorang yang
selama ini menitipkan rindu di hariku, seorang yang ku rindu. Aku mengingat
kembali memoar yang menghantam dadaku dan
merajutkan asa yang sempat terbuang.
###################
19 Juni 2013
“ Mau kuliah dimana?”
Tanya Caka via telepon. Aku menegang.
Jawaban dariku pasti dia tunggu. Tapi aku tak tahu harus menjawab apa. Karena
masih ada rasa gamang. Tapi aku harus menjawabnya.” Enggak tahu, pengennya di semarang. Ngambil
ahli gizi” kataku . “ kenapa enggak kuliah bareng kaka, disini. Kan biar kaka
bisa menjaga kamu.” Katanya mantap. Aku tersenyum mendengar celotehnya.” Mulai
deh…kaka emang sering ngegombal ya kesemua gadis?” Tanyaku. “enggak, Cuma sama
kamu doang…” jawabnya. Aku tertawa, diapun juga tertawa. “udah ah….entar timbul syahwat karena keasyikan
ngobrol kayak gini, syaila mau tidur dulu, Assalamualaikum kaka” kataku hendak
menutup telepon. “ iya kaka tahu, waalaikum salam siste” jawabnya lembut.
Aku dan caka bertemu dipameran lukisan dikota semarang. Saat
itu aku sedang liburan bersama keluargaku dirumah nenek. Dua tahun yang
lalu,tepat ketika liburan pesantren. Tak sengaja aku menumpahkan minuman
kebajunya yang secara reflek membuat dia kaget. Tapi untungnya dia tidak marah.
Aku meminta maaf padanya. Hingga akhirnya kami mengobrol dan jadi akrab.
Keakraban kami bermula disitu sampai sekarang, hingga aku memanggilnya kaka,
singkatan dari kak caka. Karena dia sangat mengerti, tentang perasaanku, dia
selalu mengalah ketika kami bertengkar, seperti layaknya kakak dan adik. Dia tahu semua tentang keluargaku, begituptun
aku yang juga tahu tentang keluarganya meski hanya sebatas tahu suaranya,
karena aku sempat mengobrol dengan kakak perempuannya via telepon. Sekarang
Caka kuliah di Bogor jurusan kedokteran.memang ia asli orang sana.
22 Juni 2013
“ Gimana keputusan akhirnya?” caka mulai bertanya lagi( via telepon). Aku
mendesah, selalu saja, setiap nelvon pasti bertanya hal yang sama.
“kuliah”. “ udahlah kak, berhenti bertanya
tentang itu, aku bosan, aku pasti kuliah , asal jangan sama kakak aja nanti
menimbulkan mafsadat” kataku. Caka tertawa, tawa yang sangat kurindu. “ oke,
kaka akan berhenti bertanya, asal kamu jelas mau kuliah dimana, kaka tahu,
orang tuamu pasti enggak setuju kamu ngambil kuliah jurusan kesehatan, apa kamu
tetap mau maksa sya? Lebih baik kamu pikirkan mereka juga, karena mereka sudah
pasti memikirkan tentang kelanjutan kuliahmu nanti. Kaka tahu, itu adalah cita-
citamu sejak ingusan, tapi kamu juga harus mikirin perasaan mereka sya”. Aku
hanya mendesah pelan, memang benar, apa yang dibilang caka, bahwa aku juga
harus memikirkan perasaan mereka. “sya, life is choose. Ingat itu. Kamu harus
memilih diantara banyak pilihan nanti, oke siste. Masih ingat dengan kata- kata
ini, Berhenti
bertahan atas sesuatu yang tak mungkin kamu pertahankan, kamu mungkin terluka
melepasnya, tapi percayalah, bahwa aka nada penyembuh yang akan datang”
Aku menahan napas.
,oh iya, sebenarnya status kita apa sekarang?
Pacaran? Hubungan saudara? Atau apa ya?kamu anggap kaka apa sya?” Deg…… akhirnya pertanyaan ini keluar juga.
Apa yang harus ku jawab?
“ aku,,,,,kaka kan tahu sendiri gimana prinsipku, jadi
kumohon,,, apa kaka tidak mengerti?”
Sory sya, bukan itu maksud kaka, kaka salah, kakak minta
maaf. Sekarang kamu fokuskan sama kuliah saja. Ya sudah, kaka tutup teleponnya.
Bye…”
Sejak saat itu aku sudah tidak mendengar lagi kabar
tentangnya. Dia tidak pernah menghubungiku lagi. Dan dia juga tak pernah tahu,
tentang rasaku, rasa yang selama ini aku pendam dalam-dalam, tentang rasa
terbaik yang pernah aku miliki, padanya. Hingga saat orangtuaku memutuskan
secara sepihak tentang masa depanku, tentang asaku yang semasa ingusan sudah ku
perjuangkan. Aku harus melepas citaku didunia kesehatan. Disaat terpuruk
seperti ini, aku butuh caka, aku ingin curhat, aku ingin mendengar suaranya,
aku ingin mendapat solusi darinya. Caka, kamu diman?
Apa aku harus memilih jurusan
orangtuaku untuk masuk kuliah pendidikan saja? Aku terkapar, aku terjatuh dalam ketidak
berdayaan. Semua menjadi kelabu dan gelap.
22 Agustus 2014
“Udah siap?” Tanya caka
yang muncul secara tiba- tiba dari belakang. Aku tersenyum, menatapnnya dalam.
Dia tersenyum menatapku, semua sudah jelas. Semua berakhir dengan bahagia, caka
member harapan baru dalam hidupku, meski sempat menghilang, ia hadir saat aku
memang butuh dia. Orang tuaku akhirnya setuju dengan pilihanku, eh tepatnya
pilihan caka yang sesuai dengan pilihanku. Caka mendaftarkan ku di universitas
Malaysia lewat jalur basiswa. Akhirnya, aku diterima di universitas Malaysia
dengan beasiswa yang aku sendiri tidak mendaftarkannya. Caka terima kasih.ras
ini memang rasa terbaik yang pernah ada, yang pernah kurasakan pertama kali
dalam hidupku, kamu yang memberikan pengetahuan baru padaku tentang segalanya,
kamu yang mengajarkan arti tak pernah berhenti berharap, dan ras yang kumiliki
apada asaku yang tak pernah padam juga padamu, rasa terbaik. kamu yang
mencintaiku, kamu, dan kamu. Orang tuaku
merestui hungan kami yang tak jelas awalnya menjadi jelas yakni ikatan
pertunangan. Kami tersenyum bahagia, rasa cita yang kumiliki, adalah rasa
terbaik yang takkan pernah kulupakan, dan cintanya adalah cinta terbaik
untukku.
Oleh:
A. kamila
@
Dapur redaksi Fakultas dakwah , santri sukorejo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar