Selasa, 20 Oktober 2015



Rasa terbaik
Situbondo, 22 Agustus 2014
Aku tersenyum penuh haru, mereka semua berkumpul dengan wajah penuh haru, bahagia, dan bangga. Ya, ini semua adalah balasan yang selama ini penuh dengan detak jantung yang siap memompa adrenalin, mengeringkan air mata yang tak pernah berhenti. Aku menghampiri mereka dan memeluk mereka dengan erat. Aku bahagi sekali, kulihat mereka menitikkan air mata, aku semakin tak bisa menghentikan air mata yang semakin keluar tak tertahan ini. Mereka, adalah keluargaku, ayah, ibu, nenek, dan semua keluarga besarku.
            Hari ini aku akan berangkat ke Malaysia, melanjutkan study yang begitu aku impikan. Penuh pengorbanan, penuh lika liku, penuh sesak, penuh air mata, dan egoisme yang menekan amarah dan luapan emosi keluarga.  Aku melihat ke pintu, disana ada seorang yang selama ini menitipkan rindu di hariku, seorang yang ku rindu. Aku mengingat kembali memoar yang menghantam dadaku dan  merajutkan asa yang sempat terbuang.
                                                ###################
19 Juni 2013
“ Mau kuliah dimana?” Tanya Caka via telepon.  Aku menegang. Jawaban dariku pasti dia tunggu. Tapi aku tak tahu harus menjawab apa. Karena masih ada rasa gamang. Tapi aku harus menjawabnya.”  Enggak tahu, pengennya di semarang. Ngambil ahli gizi” kataku . “ kenapa enggak kuliah bareng kaka, disini. Kan biar kaka bisa menjaga kamu.” Katanya mantap. Aku tersenyum mendengar celotehnya.” Mulai deh…kaka emang sering ngegombal ya kesemua gadis?” Tanyaku. “enggak, Cuma sama kamu doang…” jawabnya. Aku tertawa, diapun juga tertawa. “udah  ah….entar timbul syahwat karena keasyikan ngobrol kayak gini, syaila mau tidur dulu, Assalamualaikum kaka” kataku hendak menutup telepon. “ iya kaka tahu,  waalaikum salam siste” jawabnya lembut.
            Aku dan caka bertemu dipameran lukisan dikota semarang. Saat itu aku sedang liburan bersama keluargaku dirumah nenek. Dua tahun yang lalu,tepat ketika liburan pesantren. Tak sengaja aku menumpahkan minuman kebajunya yang secara reflek membuat dia kaget. Tapi untungnya dia tidak marah. Aku meminta maaf padanya. Hingga akhirnya kami mengobrol dan jadi akrab. Keakraban kami bermula disitu sampai sekarang, hingga aku memanggilnya kaka, singkatan dari kak caka. Karena dia sangat mengerti, tentang perasaanku, dia selalu mengalah ketika kami bertengkar, seperti layaknya kakak dan adik.  Dia tahu semua tentang keluargaku, begituptun aku yang juga tahu tentang keluarganya meski hanya sebatas tahu suaranya, karena aku sempat mengobrol dengan kakak perempuannya via telepon. Sekarang Caka kuliah di Bogor jurusan kedokteran.memang ia asli orang sana.
22 Juni 2013
            “ Gimana keputusan akhirnya?”  caka mulai bertanya lagi( via telepon). Aku mendesah, selalu saja, setiap nelvon pasti bertanya hal yang sama. “kuliah”.  “ udahlah kak, berhenti bertanya tentang itu, aku bosan, aku pasti kuliah , asal jangan sama kakak aja nanti menimbulkan mafsadat” kataku. Caka tertawa, tawa yang sangat kurindu. “ oke, kaka akan berhenti bertanya, asal kamu jelas mau kuliah dimana, kaka tahu, orang tuamu pasti enggak setuju kamu ngambil kuliah jurusan kesehatan, apa kamu tetap mau maksa sya? Lebih baik kamu pikirkan mereka juga, karena mereka sudah pasti memikirkan tentang kelanjutan kuliahmu nanti. Kaka tahu, itu adalah cita- citamu sejak ingusan, tapi kamu juga harus mikirin perasaan mereka sya”. Aku hanya mendesah pelan, memang benar, apa yang dibilang caka, bahwa aku juga harus memikirkan perasaan mereka. “sya, life is choose. Ingat itu. Kamu harus memilih diantara banyak pilihan nanti, oke siste. Masih ingat dengan kata- kata ini, Berhenti bertahan atas sesuatu yang tak mungkin kamu pertahankan, kamu mungkin terluka melepasnya, tapi percayalah, bahwa aka nada penyembuh yang akan datang” Aku menahan napas.
 ,oh iya, sebenarnya status kita apa sekarang? Pacaran? Hubungan saudara? Atau apa ya?kamu anggap kaka apa sya?”  Deg…… akhirnya pertanyaan ini keluar juga. Apa yang harus ku jawab?
            “ aku,,,,,kaka kan tahu sendiri gimana prinsipku, jadi kumohon,,, apa kaka tidak mengerti?”
            Sory sya, bukan itu maksud kaka, kaka salah, kakak minta maaf. Sekarang kamu fokuskan sama kuliah saja. Ya sudah, kaka tutup teleponnya. Bye…”
            Sejak saat itu aku sudah tidak mendengar lagi kabar tentangnya. Dia tidak pernah menghubungiku lagi. Dan dia juga tak pernah tahu, tentang rasaku, rasa yang selama ini aku pendam dalam-dalam, tentang rasa terbaik yang pernah aku miliki, padanya. Hingga saat orangtuaku memutuskan secara sepihak tentang masa depanku, tentang asaku yang semasa ingusan sudah ku perjuangkan. Aku harus melepas citaku didunia kesehatan. Disaat terpuruk seperti ini, aku butuh caka, aku ingin curhat, aku ingin mendengar suaranya, aku ingin mendapat solusi darinya. Caka, kamu diman?
            Apa aku harus memilih jurusan orangtuaku untuk masuk kuliah pendidikan saja? Aku  terkapar, aku terjatuh dalam ketidak berdayaan. Semua menjadi kelabu dan gelap.
            22 Agustus 2014
“Udah siap?” Tanya caka yang muncul secara tiba- tiba dari belakang. Aku tersenyum, menatapnnya dalam. Dia tersenyum menatapku, semua sudah jelas. Semua berakhir dengan bahagia, caka member harapan baru dalam hidupku, meski sempat menghilang, ia hadir saat aku memang butuh dia. Orang tuaku akhirnya setuju dengan pilihanku, eh tepatnya pilihan caka yang sesuai dengan pilihanku. Caka mendaftarkan ku di universitas Malaysia lewat jalur basiswa. Akhirnya, aku diterima di universitas Malaysia dengan beasiswa yang aku sendiri tidak mendaftarkannya. Caka terima kasih.ras ini memang rasa terbaik yang pernah ada, yang pernah kurasakan pertama kali dalam hidupku, kamu yang memberikan pengetahuan baru padaku tentang segalanya, kamu yang mengajarkan arti tak pernah berhenti berharap, dan ras yang kumiliki apada asaku yang tak pernah padam juga padamu, rasa terbaik. kamu yang mencintaiku, kamu, dan kamu.  Orang tuaku merestui hungan kami yang tak jelas awalnya menjadi jelas yakni ikatan pertunangan. Kami tersenyum bahagia, rasa cita yang kumiliki, adalah rasa terbaik yang takkan pernah kulupakan, dan cintanya adalah cinta terbaik untukku.


                                                                                    Oleh: A. kamila
                                                                        @ Dapur redaksi Fakultas dakwah , santri sukorejo

           

Tidak ada komentar: